Mahasiswa Universitas Hasanuddin Ubah Tanaman Pesisir yang Terlupakan Menjadi Inovasi Pet Care Ramah Lingkungan

Program Kreativitas Mahasiswa Kewirausahaan (PKM-K) 2026 mengembangkan Pomeo serum bioherbal inovatif untuk membantu mengatasi ektoparasit dan dermatofitosis pada hewan peliharaan.

LINISULSEL.COM – Di tengah meningkatnya tren pet care di Indonesia, sekelompok mahasiswa Universitas Hasanuddin menghadirkan inovasi yang membuktikan bahwa solusi kesehatan hewan bisa lahir dari kekayaan hayati lokal.

Melalui Program Kreativitas Mahasiswa Kewirausahaan (PKM-K) 2026, tim yang diketuai oleh Chi Putra, mahasiswa Program Studi Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), mengembangkan Pomeo serum bioherbal inovatif untuk membantu mengatasi ektoparasit dan dermatofitosis pada hewan peliharaan dengan pendekatan yang lebih aman dan ramah lingkungan.

Yang membuat inovasi ini menarik adalah bahan baku utamanya.

Tim memilih katang-katang (Ipomoea pes-caprae L.), tanaman pesisir yang selama ini sering dipandang sebagai gulma dan nyaris tak memiliki nilai ekonomi.

Di tangan para mahasiswa ini, tanaman tersebut “naik kelas” menjadi bahan utama produk kesehatan hewan berbasis teknologi modern.

POMEO mengombinasikan ekstrak katang-katang dengan belimbing wuluh, kemudian diformulasikan menggunakan teknologi Self-Nanoemulsifying Drug Delivery System (SNEDDS).

Teknologi nanoemulsi ini memungkinkan senyawa aktif lebih stabil, mudah terserap kulit, serta bekerja lebih optimal sehingga meningkatkan performa serum dibandingkan formulasi konvensional.

Mengusung konsep Triple Action, Pomeo menawarkan tiga manfaat utama dalam satu produk. Pertama, Repellent, membantu mengurangi kutu, tungau, dan caplak pada anabul.

Kedua, Protective, memberikan perlindungan melalui aktivitas antibakteri dan antijamur alami.

Ketiga, Nurturing, membantu menjaga kesehatan kulit sekaligus membuat bulu tetap sehat dan terawat.

Dengan pendekatan tersebut, Pomeo hadir sebagai alternatif yang lebih ramah lingkungan dibandingkan penggunaan insektisida sintetis yang berpotensi meninggalkan residu pada hewan maupun lingkungan.

“Banyak yang menganggap katang-katang hanya tanaman liar di pesisir. Padahal, jika dipadukan dengan riset dan teknologi yang tepat, tanaman ini memiliki potensi luar biasa untuk menjadi produk bernilai tinggi.

Lewat Pomeo, kami ingin menunjukkan bahwa inovasi tidak selalu harus berawal dari sesuatu yang mahal, tetapi dari keberanian melihat peluang di balik sumber daya yang sering diabaikan,” ungkap Chi Putra, Ketua Tim PKM-K Pomeo.

Lebih dari sekadar menciptakan produk pet care, Pomeo membawa semangat pemanfaatan biodiversitas Indonesia secara berkelanjutan. Inovasi ini menjadi bukti bahwa riset mahasiswa mampu menghubungkan sains, teknologi, kewirausahaan, dan pelestarian lingkungan dalam satu solusi yang berdampak nyata bagi masyarakat.

Melalui Pomeo, tim berharap semakin banyak inovasi berbasis sumber daya lokal yang lahir dari tangan generasi muda Indonesia.

Sebab, masa depan inovasi tidak hanya tentang menciptakan teknologi baru, tetapi juga tentang mengubah sesuatu yang selama ini dianggap biasa menjadi solusi luar biasa. (*)

 

 

Tutup